in

12 Tips Mengasuh Anak Saat Pandemi COVID-19

Cara mengasuh anak saat Pandemi Corona Covid19

Pandemi COVID-19 berdampak bagi setiap keluarga di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diterapkan juga menjadi tantangan baru bagi orang tua untuk dapat menyesuaikan pola parenting atau pengasuhan anak.

Aturan PSBB yang membatasi sejumlah besar aktivitas di luar rumah membuat nyaris seluruh anggota keluarga melakukan kegiatan dalam rumah. Mulai dari pembelajaran jarak jauh alias online study hingga Work From Home (WFH).

Isu kesehatan mental pun mulai memprihatinkan. Tidak hanya di kalangan orang dewasa, namun juga remaja dan anak-anak.

Untuk itu, melalui laman resminya, UNICEF membagikan sejumlah tips dari para pakar untuk membantu orang tua mengasuh anak di tengah berlangsungnya pandemi virus corona.

Ada 12 tips parenting khusus yang dapat diterapkan di masa pandemi COVID-19, berikut terjemahan bebas seperti dilansir dari unicef.org.

Cara mengasuh anak saat Pandemi Corona Covid19

Diskusi mengenai COVID-19

Orang tua diharapkan mengajak anak berbincang secara terbuka mengenai pandemi virus corona yang tengah terjadi. Keterbukaan dan kejujuran jauh lebih baik dibandingkan merahasiakan kejadian yang sebenarnya sehingga anak bingung.

Melalui diskusi, orangtua dapat mengetahui sejauh mana pengetahuan si kecil tentang COVID-19. Juga dapat meluruskan serta menjelaskan hal-hal yang masih rancu, sebatas pengetahuan orang tuanya.

Beri dukungan pada anak Anda untuk mengungkapkan perasaannya. Ketakutan dan kecemasan sangat mungkin muncul dalam kondisi pandemi. Oleh karenanya, penting bagi anak untuk yakin bahwa orangtua selalu mendampingi.

Perlu ditekankan agar anak-anak tidak mengaitkan keberadaan COVID-19 dengan penampilan, asal usul, ataupun bahasa seseorang. Juga perlu dijelaskan pentingnya memiliki belas kasih terhadap penderita virus corona serta para pelayan kesehatan yang merawat mereka.

Di akhir pembicaraan, perhatikan kondisi anak Anda. Ingatkan betapa Anda mencintai mereka dan pastikan bahwa mereka dapat membicarakan kembali topik ini kapanpun. Lalu ajak anak untuk melakukan kegiatan yang menyenangkan.

Siapkan waktu khusus untuk masing-masing anak selama COVID-19
Ilustrasi: Kebersamaan keluarga

Siapkan waktu khusus untuk masing-masing anak selama COVID-19

Tidak bisa pergi ke sekolah dan bertemu dengan teman sebaya berdampak pada emosi anak. Meskipun orangtua memiliki masalah sendiri seputar pekerjaan dan keuangan, namun sangat perlu mempersiapkan waktu khusus untuk masing-masing anak selama COVID-19.

Pandang tutupnya sekolah sebagai sebuah peluang untuk memperbaiki hubungan dengan anak Anda, termasuk anak remaja. Dengan menyiapkan waktu khusus untuk mendampingi setiap anak secara pribadi akan membuatnya merasa dicintai dan terlindungi, serta merasa penting.

Sisihkan waktu Anda untuk menemani setiap anak secara khusus setiap hari. Tidak harus lama, cukup sekitar 20 menit atau lebih dan dapat dilakukan secara teratur di waktu yang sama sehingga anak menantikannya.

Diskusikan kegiatan yang akan dilakukan bersama. Boleh hanya berbincang dari hati ke hati atau bermain bersama.

Untuk balita, Anda bisa mengajak mereka bernyanyi bersama, bermain, membacakan cerita, dan sebagainya.

Jika anak Anda sudah lebih besar, dapat diajak membaca buku bersama, mewarnai, menari atau bernyanyi bersama, bermain, ataupun membantu mereka mengerjakan PR.

Bagi yang memiliki anak usia remaja dapat mengajak mereka berdiskusi seputar hobinya, musik, selebriti, atau teman-temannya. Bisa juga memasak atau berolahraga bersama.

Tetap positif

Bersikap positif di saat semua anak berkumpul di rumah setiap hari dengan tingkah polah masing-masing bukanlah sesuatu yang mudah. Namun anak-anak pada umumnya akan mengerjakan apa yang diminta apabila orangtua memberikan perintah yang positif disertai segudang pujian saat anak melakukannya dengan tepat.

Menyisipkan kata ‘tolong’ saat menyuruh anak melakukan sesuatu dapat berdampak positif. Anak akan senang mendengar kalimat ‘tolong angkat bajumu’ dibandingkan perintah ‘angkat bajumu!’.

Berteriak pada anak hanya akan membuat Anda bertambah stress dan marah. Tetap jaga intonasi saat menegur anak, serta berikan pujian bagi anak yang bersikap baik.

Sadarilah bahwa hampir tidak mungkin menuntut anak untuk tetap tenang di rumah sehari-harian. Namun mungkin anak-anak bisa tenang selama beberapa menit ketika orang tua sedang menerima panggilan telepon.

Khusus bagi remaja, sangat penting untuk dapat tetap terhubung dengan teman-temannya. Bantu mereka terhubung melalui media sosial dan berbagai cara lain tanpa melanggar social distancing.

Buat jadwal baru

Tidak bisa dipungkiri, COVID-19 juga mempengaruhi aktivitas keseharian orang tua dan anak. Situasi ini sangat mungkin membuat anak-anak, remaja, bahkan orangtua merasakannya sebagai beban.

Untuk mengurangi dampak negatifnya, orangtua bisa membimbing anak untuk membuat jadwal baru dalam rutinitas keseharian anaknya.

Ciptakan jadwal rutin yang fleksibel namun konsisten. Pastikan Anda dan si kecil memiliki jadwal aktivitas bersama namun juga masing-masing memiliki waktu luang. Cara ini dapat membuat anak merasa lebih aman dan bersikap lebih baik.

Anak juga dapat membantu mengatur rutinitas mereka sesuai dengan jadwal sekolah masing-masing. Jangan lupa berolahraga rutin untuk meminimalkan stress.

Jangan lupa ajarkan kepada anak beberapa langkah penting untuk mencegah penularan virus corona. Terutama jika wilayah Anda tidak menerapkan PSBB.

Menjaga jarak atau social distancing, serta kebiasaan mencuci tangan yang benar menjadi dua kegiatan yang harus diterapkan dalam keseharian. Dalam hal ini, perilaku orang tua akan menjadi panutan bagi anak-anaknya.

Belajar sambil bermain

Mengingat jutaan sekolah ditutup sementara akibat pandemi COVID-19, maka orangtua saat ini berperan penting untuk mengedukasi anak-anak. Cara yang paling efektif adalah mengajak anak belajar sambil bermain.

Pilih berbagai permainan yang melibatkan pengetahuan tentang bahasa, angka, hingga seni seperti musik dan drama agar anak berkesempatan untuk mengeksplorasi dan mengekspresikan dirinya dengan cara yang menyenangkan. Bernyanyi bersama juga dapat mengembangkan pengetahuan anak tentang bahasa.

Sementara itu, agar tubuh anak tetap aktif bergerak, Anda juga dapat mengajaknya dalam permainan yang penuh gerakan, seperti menari bersama, petak umpet, jadi patung, dan lain sebagainya.

Selanjutnya, untuk memperluas pengetahuan, Anda juga dapat bercerita atau mengajak anak menonton film-film yang memotivasi dan mengedukasi. Sedangkan untuk melatih daya ingat, orang tua dan anak dapat bermain sejumlah games seperti puzzle, tebak angka, sudoku, dan lainnya.

Jika Anda kekurangan properti untuk bermain, jangan kuatir. Bahkan peralatan rumah tangga seperti sapu atau kain pel pun dapat menjadi properti menarik dalam bermain.

Letakan sapu atau kain pel di tengah ruangan. Tantang anak berkreasi dengan alat-alat tersebut. Jangan heran jika peralatan rumah tangga tersebut dapat berubah fungsi menjadi mic, gitar, atau bahkan kuda-kudaan.

Pastikan keamanan anak saat ‘online’ selama COVID-19

Kegiatan online menjadi tak terelakkan saat pandemi COVID-19. Namun orang tua diharapkan selalu memantau anak-anaknya agar tetap aman saat ‘online’.

Beberapa resiko bagi anak saat beraktivitas secara ‘online’ antara lain kecanduan game online, membaca konten kekerasan yang tidak sesuai dengan usianya, cyberbullying atau intimidasi dunia maya, hingga membagikan informasi pribadi yang seharusnya dirahasiakan.

Untuk melindungi anak, kini orangtua dapat memanfaatkan sejumlah teknologi seperti mengaktifkan SafeSearch pada browser, menyetel pengaturan khusus untuk aplikasi dan game online yang dapat digunakan, dan sebagainya.

Selanjutnya, orang tua diharapkan mengajarkan kebiasaan online yang aman kepada anak-anaknya. Diantaranya memberi pengertian kepada anak untuk merahasiakan informasi pribadi mereka.

Anak juga harus dilibatkan saat membuat peraturan mengenai penggunaan perangkat teknologi di rumah. Seperti ketika menentukan area bebas gadget di rumah Anda, misalkan tidak boleh melihat hp saat makan bersama, bermain, belajar online, atau saat jam tidur.

Untuk yang memiliki anak remaja, sisihkan waktu lebih banyak untuk mengeksplorasi dunia online bersama-sama. Ajarkan cara melaporkan konten yang tidak pantas.

Dan yang terpenting adalah, orangtua harus membiasakan anak untuk terbuka tanpa merasa dihakimi dan takut dihukum. Cepat tanggap saat anak terlihat lesu, kecewa, menutup diri, atau terobsesi dengan aktivitas online.

Ciptakan hubungan saling percaya dan keterbukaan komunikasi dengan anak. Mengingat setiap anak adalah unik, Anda dapat menyesuaikan cara berkomunikasi yang tepat. Misalkan untuk anak yang lambat belajar, Anda dapat menjelaskan berbagai hal dalam bentuk yang lebih sederhana.

Jaga keharmonisan keluarga

Anak akan merasa lebih aman dan dicintai jika melihat hubungan orangtuanya penuh cinta dan damai. Kata-kata positif juga berperan penting untuk menjaga kebahagiaan keluarga selama masa-masa penuh tantangan.

Ingat, orangtua adalah panutan buat anak-anaknya. Cara orangtua bersikap dan berkomunikasi berdampak besar bagi anak. Jangan lupa untuk menggunakan kalimat yang positif serta memberi pujian ketika anak menyelesaikan tugas.

Sekali lagi, aktivitas bersama keluarga dalam waktu yang berkualitas sangat penting bagi anak. Siapkan telinga Anda untuk mendengar curahan hati anak-anak.

Orang tua juga dapat melibatkan anak dalam pekerjaan rumah sehari-hari tanpa paksaan. Jangan lupa, Anda juga butuh istirahat yang cukup untuk menghilangkan amarah dan stress.

Tetap tenang dan atasi stress saat COVID-19

Tidak aneh bila seseorang merasa tertekan di waktu-waktu ini karena memang ini adalah kondisi yang penuh tantangan. Untuk itu Anda harus menjaga diri sendiri agar dapat mendukung anak-anak.

Sadarilah bahwa Anda tidak sendiri, bahkan jutaan orang memiliki kekuatiran yang sama. Temukan orang yang dapat diajak curhat dan hindari kepanikan di media sosial.

Selain terbuka dan mendengar keluh kesah anak-anak, Anda juga perlu meluangkan waktu untuk diri sendiri. Ambil waktu bersantai, terlepas dari segala aktivitas.

Berikut aktivitas bersantai selama satu menit yang dapat dilakukan kapanpun Anda merasa tertekan dan kuatir.

Langkah pertama, atur posisi duduk Anda. Kaki rata di lantai dan istirahatkan tangan di pangkuan. Tutup mata Anda jika terasa nyaman.

Kedua, tanyakan pada diri sendiri ‘Apa yang sedang dipikirkan saat ini’. Sadarilah pikiran, tubuh, dan perasaan Anda. Apakah pikirannya negatif atau positif, tubuh Anda ada yang sakit atau tegang, serta apakah Anda merasa bahagia atau tidak.

Selanjutnya yang ketiga, atur pernapasan. Anda dapat menaruh tangan di perut dan rasakan kembang kempisnya saat bernapas. Tetapkan dalam hati bahwa Anda baik-baik saja.

Keempat, perhatikan apa yang tubuh Anda rasakan. Dengarkan suara yang ada di ruangan.

Terakhir yang kelima, pikirkan ‘apakah saya merasa berbeda?’. Ketika Anda siap, buka mata dan kembali beraktivitas bersama anak-anak.

Awasi sikap buruk

Dalam kondisi khusus penuh tekanan seperti saat ini, tidak mengherankan jika anak-anak kerapkali berulah saat mereka merasa letih, lapar, takut, atau menuntut kebebasan. Dan ini dapat membuat orangtua semakin tertekan.

Penting untuk menyadari saat sikap anak mulai berubah dalam rangka menarik perhatian orangtuanya. Saat itu terjadi, segera pikirkan sesuatu yang menyenangkan untuk menarik minat mereka, seperti mengajak bermain game bersama.

Juga penting untuk mendisiplinkan anak agar bertanggung jawab terhadap kelakuannya. Disiplin dapat dilatih dengan memberi konsekuensi yang akan mereka terima saat melakukan sesuatu.

Beri anak pilihan untuk mengikuti aturan atau melanggar dengan menerima konsekuensi tertentu. Contoh, menyita hp selama satu jam. Namun jangan lupa memberi pujian saat anak bersikap baik serta menuntaskan tugas-tugasnya.

Selanjutnya, tetap sadarilah bahwa Anda sebagai orang tua juga butuh waktu sejenak untuk berhenti dari segala aktivitas dan beristirahat.

Kendalikan amarah

Wajar bila terkadang perasaan marah sulit untuk ditahan, namun orang tua sebaiknya belajar untuk mengendalikannya agar tidak menyakiti orang lain termasuk anak-anak.

Perhatikan hal-hal yang setiap kali dapat membuat Anda marah. Sebisa mungkin cegah hal tersebut terjadi, misalkan jika rasa marah tersebut selalu timbul saat Anda lelah maka beristirahatlah sebelum hal itu terjadi.

Ambil waktu luang untuk menenangkan diri. Anda dapat menyendiri sekitar 10 menit untuk mengendalikan emosi.

Sadarilah bahwa Anda juga harus menjaga diri. Curhat dengan teman atau keluarga dapat membantu meredakan emosi.

Atur pengeluaran di tengah tekanan keuangan

Tekanan keuangan dialami jutaan keluarga karena pandemi COVID-19. Diskusi dan mengatur pengeluaran bersama keluarga dapat mengurangi stress Anda.

Ijinkan anak terlibat dalam mengatur budget keluarga. Catat apa saja yang dibutuhkan sehingga mengetahui perkiraan pengeluaran per bulan. Jika memungkinkan, tetap sisihkan sedikit uang untuk kondisi darurat.

Pisahkan antara kebutuhan dan keinginan. Jelaskan kepada anak-anak untuk mengutamakan kebutuhan terlebih dahulu dan kurangi pengeluaran untuk hal-hal yang kurang penting.

Mengasuh anak di tengah keluarga besar dan komunitas selama COVID-19

Menjaga kesehatan dan keamanan keluarga di tengah COVID-19 terasa lebih berat dalam kondisi yang semerawut. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk memudahkannya.

Salah satunya dengan membatasi siapa saja yang datang ke kediaman Anda. Juga membatasi kegiatan di luar rumah hanya untuk hal-hal penting seperti membeli bahan makanan dan keperluan kesehatan.

Bantu anak menjaga jarak dari orang lain serta membiasakan diri mencuci tangan dengan benar. Ajari anak untuk menghindari kebiasaan menyentuh wajah.

Berbagi beban dengan anggota keluarga lainnya juga dapat mempermudah tugas Anda. Atur jadwal dan pastikan Anda tetap memiliki waktu luang untuk beristirahat, serta olahraga secara teratur.

Tetap positif saat menghadapi pandemi COVID-19!